Thursday, September 20, 2007
De, are you Moslem?
Barusan abis baca tulisan mas Bayu yang ini. Jadi senyum-senyum sendiri deh. Mengingat peristiwa yang sama juga sering menimpa saya.


Retno Kristiani

Melihat sebait nama ini tanpa pernah bertemu muka, pasti tergambar sosok wanita tanpa jilbab. Untuk agamanya? pasti dituduh seperti nama belakangnya lah. hehehe

Saya tidak menyalahkan mami yang memberi nama ini. Bagaimana pun nama adalah do'a. Dan memang do'a mami saat memberi nama saya adalah agar kelak saya bisa menganut katolik seperti dirinya. Karena saya anak beliau perempuan satu-satunya.

Kalaupun akhirnya Allah SWT tidak mengabulkan do'a mami, dan ternyata malah mami yang ikut memeluk agama Islam di tahun 1995... itu saya anggap sebagai anugerah.

Tetapi efek nama ini semakin banyak saya rasakan terlebih setelah saya memutuskan memakai jilbab tahun 1996 sebagai identitas keislaman saya. Banyak orang yang tidak percaya ketika saya menyebut nama saya. Banyak mahasiswa yang kaget ketika dosen memanggil nama tsb dan berdirilah saya lengkap dengan jilbabnya (ya iyalah...mosok dipanggil dosen pake copot jilbab dulu hehehe).

Peristiwa yang kurang mengenakan terjadi ketika saya bekerja untuk mengurus koneksi dari partner ke server kantor. Saat itu pihak MQ meminta passwordnya diganti menjadi 'subhanallah' dan saya tidak mengabulkannya. Karena komunikasi terjadi melalui email tanpa bertemu wajah, saya memaklumi kalo saya dituduh rasis. Tetapi sebelum dituduh rasis, saya jelaskan bahwa untuk password sudah ada aturan yang kami terapkan, yaitu 8 karakter dengan komposisi 2 angka + 4 huruf + 2 angka. Jadi bukan karena saya kristiani kemudian saya tolak password tsb. Alhamdulillah mereka bisa menerima.

Saat hamil Fayra, masguh sempat mengusulkan "kita kasih nama anak kedua PERMATA ISLAMI aja ma. Retno itu kan bahasa jawa yang artinya permata. Dan blakangnya kita kasih Islami biar bertolak belakang sama ibunya yang Kristiani. hahaha"

Sekarang dengan bisnis sampingan menjual baju renang muslimah, peristiwa yang berkaitan dengan nama makin sering terjadi. Apalagi saya hanya berjualan online tanpa bertemu muka dengan pembeli.

Seringkali saya menerima SMS "is that you on website? are you moslem?"

Saat keusilan saya kambuh, ingin sekali saya menjawab "yes that's me. I'm not moslem. I just wear it to increase sale" hihihihi

Saya sudah pernah bertanya tentang proses pergantian nama, tetapi ternyata birokrasi di Indonesia sulit sekali dan butuh biaya yang tidak sedikit. Ngurus akte kelahiran, ijasah, KTP, kartu keluarga, sampai passport butuh waktu dan biaya. Dan saya belum rela untuk mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk -delete- nama belakang saya.

Apalah arti sebuah nama? Tetapi nama adalah do'a. Untuk saya...biarlah nama saya menjadi kenangan atas sejarah hidup saya. Karena saya yakin, selain dalam nama... orang tua kita pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya kan?

Yang pasti...saya bersyukur menjadi orang Islam. Dan rasa syukur ini saya tunjukan dengan identitas berupa pakaian yang insya Allah bernuansa islami. Selebihnya biar orang lain yang menilai...

Jadi cukup panggil saya -DE- yaaaaa


Monday, September 17, 2007
Pelajaran pertama
Walaupun sudah 3 tahun terakhir saya menjalani usaha berjualan baju renang muslim, tapi saya menganggap tahun 2007 lah usaha ini benar-benar saya jalani. 3 tahun sebelumnya hanya saya jalani 1/3 hati. Karena saya cuma sekedar iseng, jadi apapun yang terjadi didalam bisnis ini saya anggap keisengan belaka. Tidak ada pelajaran yang saya petik, tidak ada kemajuan yang berarti.

Sesuatu yang dilakukan dengan biasa...maka hasilnya juga akan biasa saja. Jangan berharap bisa menghasilkan yang luar biasa selama melakukan hal biasa!


Bulan Maret 2007, merupakan penjualan tertinggi pertama kali sejak 2004. Saat itu pun akhirnya saya memutuskan untuk serius menjalani bisnis ini dan mulai memikirkan secara profesional. Saya langsung membuat sketsa bisnis dalam agenda harian saya, bentuk website, pohon menu dalam website, domain, tagline, tampilan katalog, dll.

Ternyata di bulan itu pun saya mendapat pelajaran pertama dalam hal berbisnis online. Tepat sebulan sebelum www.rafayra.com online, ada seorang (kita sebut aja ibu X) yang mengirim email menyampaikan kebutuhan nya akan baju renang muslimah remaja untuk anaknya. Karena waktu yang mepet, sedangkan di sekolah anak mewajibkan murid untuk menutup aurat termasuk dalam hal olahraga renang...sang ibu meminta saya untuk mengirimkan 1 stel baju renang muslimah remaja. Karena merasa ingin membantu dan ibu X berjanji akan mentransfer uangnya sore itu juga, saya langsung mengirim paket ke alamat yang tertera dalam email.

Saya tunggu 2 hari, pembayaran belum juga saya terima. Saya telpon ibu X menanyakan apakah sudah terima paketnya, beliau menjawab sudah dan sangat berterima kasih. Beliau mengatakan belum sempat melakukan transfer melalui ATM dan berjanji akan mentransfer secepatnya.

Sampai hari ini....sudah September 2007...pembayaran belum juga saya terima.

Setiap saya telpon ke kantornya, dijawab oleh rekan kerja bahwa beliau tidak masuk atau sudah pulang. Saya tidak tahu apakah ada unsur kesengajaan atau tidak. Saat ini saya hanya mencoba untuk ikhlas dan mengambil hikmah dibalik kejadian tsb.

Bisnis online memang terlihat gampang dan menggiurkan. Tidak perlu modal besar untuk menyewa toko, bahkan sekarang pun banyak yang menawarkan blog gratisan yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berdagang.

Tetapi jangan lupa...bahwa dalam bisnis online juga dibutuhkan KEPERCAYAAN yang luar biasa. Bagaimana kita sebagai penjual yakin bahwa pembeli akan melakukan pembayaran. Bagaimana pembeli yakin bahwa barang akan dikirim setelah mereka melakukan pembayaran.

Yang tidak kalah penting bagaimana membuat pembeli yakin bahwa barang yang kita jual seindah yang kita tampilkan dalam foto di web. Karena banyak penjual yang pintar mengambil enggel foto...tapi kenyataan produknya tidak seindah fotonya. Untuk saya yang tidak pandai dalam bidang fotografi, foto yang saya sajikan di web hanya seadanya. Hal ini justru terjadi kebalikannya. Foto produk saya kadang membuat pembeli tidak yakin dengan kualitas produk.

Pelajaran pertama sudah saya petik secara instant ketika saya baru saja memutuskan untuk serius dalam bisnis ini. Dan kejadian ini...tidak membuat saya mundur. Saya menjadi lebih hati-hati dalam menerima order, dan saya tidak akan mengirim barang sebelum pembayaran saya terima.

Saya yakin...masih banyak yang harus saya pelajari selama perjalanan ini saya tempuh. Semoga pelajaran-pelajaran itu justru menguatkan langkah saya menuju cita-cita menjadi ibu rumahan berpenghasilan. Amin...amin...amin...ya robbal alamin


footer